Pengajaran Digital atau Manual?

"Jika kita tidak memanfaatkan sepenuhnya komunikasi elektronik dalam pendidikan, kita akan seperti nenek moyang kita yang gagal menggunakan alfabet, menolak mencetak buku, atau masih menggosok-gosokkan batang kayu untuk menciptakan api" (Revolusi Cara Belajar, Gordon Dryden & Jeanette Vos:93)


Pernyataan di atas mungkin terlihat sangat kontroversial. Dimuat dalam sebuah buku yang terbit dalam bahasa Inggris tahun 1999, tentunya menjadi catatan tersendiri. Karena kenyataannya dunia komunikasi elektronik pada 11 tahun setelah buku itu terbit, yaitu saat ini, memang sudah sebegitu meluas jangkauannya. Tak terelakkan, kita semua tersentuh kemajuan teknologi tersebut. Akan tetapi, akankah kalimat sarkastis itu benar-benar sebegitu meyakinkan bisa terjadi?

Beberapa hari terakhir ini saya memang sering memikirkan tentang mana yang lebih penting didahulukan bagi anak-anak, mengenal dunia digital dan memperdalamnya sejak dini ataukah lebih dulu mengajak mereka mengeksplorasi dunia nyata? Kesimpulan saya, dua-duanya bisa berjalan beriringan. Meski saya tetap melihat interaksi dengan dunia nyata perlu diperbanyak porsinya, namun saya anggap kedua-duanya adalah penting.

Dunia digital memang akan selalu menunggu sambil dia maju, tapi jika terlalu ekstrim untuk tidak mengenalkan anak-anak pada teknologi digital, maka beberapa manfaat edukatif bermediakan alat ini tentu menjadi luput. Jika tujuannya untuk edukasi, mengapa tidak? Bukankah tanpa disadari, anak-anak sebenarnya tetap akan bersentuhan dengan dunia elektronik dan digital dalam kehidupan sehari-hari, minimalnya dengan alat paling sederhana yaitu handphone (meski hanya 'mengoprek' HP milik orang tuanya) atau televisi. Apa yang mereka akses atau lakukan dengan alat-alat tersebut? Tanpa panduan pastinya bisa segala hal (baik negatif maupun positif) mereka terima.

Yang terpenting menurut saya adalah: (1) Porsi yang seimbang antara belajar di dunia nyata dengan belajar secara digital dan bahkan virtual. Hal ini tak hanya warning untuk anak-anak tapi juga orang dewasa. (2) Pendampingan orang tua.

Tentang pernyataan Dryden dan Vos di atas, tentunya hanya perjalanan waktu yang bisa membuktikannya. Setuju atau tidak setuju dengan pernyataan tersebut, pada akhirnya kita tidak akan bisa memaksa orang lain memilih jalan yang kita tempuh. Setiap orang akan mengambil pilihan yang paling sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

Menangkap Kupu-Kupu Lagi

Dulu saya pernah memposting tulisan berjudul, Mengejar Kupu-Kupu. Tulisan itu saya buat ketika kami baru 26 hari tinggal di rumah baru di Tanjungsari. Tak terasa sekarang sudah hampir mendekati masa 2 tahun kami menempati kawasan ini, dan anak saya Luqman ternyata masih menyimpan rasa penasaran terhadap kupu-kupu yang tidak terlalu jinak. Ia ingin mencoba menangkapnya, walau kemudian dilepaskannya kembali.

Berbekal jaring penangkap ikan (lamit kalau kata orang Sunda ^_^), sejak kemarin ia terus tertarik untuk mengubahnya menjadi penangkap kupu-kupu. Ia terinspirasi dari buku yang memperlihatkan alat itu dipakai anak-anak untuk berburu kupu-kupu. Awalnya saya membeli 'lamit' memang hanya untuk menangkap ikan yang ada di kolam kecil kami. Kemudian berubah jadi penjaring kupu-kupu, sepertinya bukanlah ide yang perlu ditolak.


Satu hal yang menarik, kupu yang biasanya sangat liar dan terbang cekatan itu bahkan bisa terdiam di tangan anak saya selama kurang lebih 3 menit. Caranya hanya dielus-elus dan "memakai kekuatan pikiran" (begitu kata Luqman ^^).

Waah, sebenarnya mungkin juga ada pengaruh film MATILDA (anak yang memiliki kekuatan imajinasi sehingga bisa membebaskan teman-temannya dari seorang kepala sekolah yang jahat). Luqman menontonnya hingga beberapa kali dan begitu takjub dengan kehebatan MATILDA. Dengan pendampingan, film itu bisa sekalian mengajarkan pada anak-anak tentang hebatnya pikiran yang pantang menyerah. Tokoh Matilda yang sangat mandiri dan percaya diri membuat anak-anak belajar tentang kebalikan dari imperior.

Nah, setelah kemahiran menangkap kupu-kupu ini makin baik, dan pasti besoknya dan besoknya lagi diulang, rencananya saya akan membuatkan penangkaran kupu-kupu mini buat anak-anak. Setidaknya untuk mempertahankan benih kecintaan belajar sains sejak dini?

Obrolan Sebelum Tidur (2)

Papa bertanya pada Luqman, "Apa yang akan Ade lakukan jika di rumah seseorang yang Ade datangi ada makanan enak yang paling Ade sukai? Apakah akan mengambilnya?"

Luqman: "Tentu saja tidak."
Papa: "Tapi nggak ada siapa-siapa lho di situ. Nggak ada yang liat kalaupun Ade mengambilnya,"
Luqman: "Ah, tetap saja tidak akan Ade ambil,"
Papa: "Walaupun Ade sangat menginginkannya?"
Luqman: "Iya, karena Ade tahu, kalau mengambilnya tanpa ijin berarti Ade kan mencuri."
Papa: "Terus apa yang akan Ade lakukan?"
Luqman: "Ade mungkin akan melihatnya, tapi Ade akan menaahan kuat-kuat rasa sangat ingin itu".


Kami tertawa dan memberi jempol untuknya.

(Apakah Luqman benar-benar akan mempraktikkan apa yang ia katakan saat berhadapan dengan kasus semacam itu? Kami tidak bisa menjamin. Tapi lewat obrolan itu minimal kami tahu bahwa dia telah mengerti sebuah nilai penting, yaitu: Sekalipun sangat menginginkannya, ia tidak-lah berhak mengambil sesuatu yang bukan miliknya.)

Hadiah Lebaran

Bersyukur. Mungkin itulah kata yang paling tepat harus saya ucapkan. Puasa Ramadhan tahun ini (1431 H/2010 masehi), dengan karunia Allah Yang Mahapemurah, telah memberi saya banyak pelajaran. Dan hebatnya, pelajaran itu justru datang dari anak-anak saya.

Ramadhan tahun ini Azkia (kini 8 tahun), nyaris berhasil menamatkan puasanya kalau saja tidak terpotong oleh safar ke kampung pada hari terakhir. Padahal pada bulan Ramadhan tahun sebelumnya ia hanya puasa sekitar dua hari, itupun hanya sampai dzuhur. Keinginan berpuasa datang dari dirinya sendiri, sama sekali tanpa paksaan. Itikadnya yang kuat membuat saya merasa bangga sebagai orang tua. (Semoga tidak terjerumus pada takabur, insha Allah).

Satu kemajuan lagi pada Azkia adalah kemauannya mengenakan kerudung sepanjang hari saat keluar rumah. Awalnya sejak beberapa minggu sebelum bulan Ramadhan. Suatu hari Azkia berbisik, "Mama, ternyata Kakak berhasil lho seharian ini tidak buka kerudung saat di luar". Sebagai ibu yang juga masih belajar merespon dengan baik, saya berusaha mengekspresikan pujian yang normal padanya atas kemajuan itu. Dan alhamdulillah, hingga kini ia tetap mengenakan kerudungnya.

Adapun Luqman, yang sebelumnya masih sangat sulit diajak sholat, saat Ramadhan kemarin terlihat berusaha sungguh-sungguh untuk melawan rasa malasnya. Ia ikut sholat bersama kami walau bertahap hanya konsisten sholat shubuh dan maghrib. Dan itu masih berlangsung sampai hari ini.

Selain itu, yang paling mengherankan tapi sekaligus membuat saya bersyukur adalah sikap mereka yang jadi lebih sabar, tak banyak mengeluh, dan pandai mengibur diri.

Saat mudik kami naik kendaraan umum. Sejak berangkat memang saya berulang kali mengatakan pada mereka, "Kita akan melakukan perjalanan agak jauh. Mungkin sekali kita akan bertemu hal-hal yang tidak menyenangkan. Mungkin akan bertemu macet, panas, dan banyak lagi. Kita harus siap bersabar menghadapi semua itu. Mau berusaha sabar, kan?" Anak-anak mengangguk, menyanggupi.

Anak-anak memang sangat ingin bertemu nenek dan saudara-saudara sepupunya. Karena itulah, sepertinya mereka mau berusaha berkompromi dengan kemungkinan yang kurang enak, yang biasanya selalu membuat mereka sedikit rewel atau mengeluh.

Perjalanan pun dimulai dan kami sudah meniatkan perjalanan ini memang untuk sebuah latihan kesabaran. Bukan hanya untuk anak-anak tapi juga untuk kami semua. Jadi, mulut dijaga rapat-rapat untuk tidak bicara tentang keluhan. Kami berjuang untuk membincangkan hanya hal-hal yang positif.

Fase demi fase kami lewati. Tibalah kami di terminal terakhir menuju kampung. Cuaca sangat panas, debu beterbangan, bejubel orang-orang hendak berbelanja lebaran. Sebuah keadaan yang sangat mengganggu sebenarnya. Setelah sekitar 1 jam anak-anak menunggu di mesjid bersama papanya (karena saya membeli beberapa keperluan pesanan ibu saya) akhirnya kami mencari angkutan ke kampung. Kebetulan angkutan sederhana ala desa ada yang kosong. Kami pun naik.

Di dalam pick-up angkutan barang yang disulap jadi angkutan manusia kami dinaungi terpal. Seketika setelah kami naik, hawa panas menyengat. Saya bilang ke Luqman, "Agak panas ya, De? Mungkin juga akan agak lama kita menunggu". Mengejutkan, Luqman menjawab, "Enggak terlalu, Ma. Memang panas sih, tapi Ade bisa tahan. Dan tidak apa-apa lama ataupun sebentar. Kalau Ade mah, yang penting nyampe".

Saya dan papanya tertawa. Ajaib sekali! Luqman biasanya paling gampang mengeluh dan ternyata bisa berubah? Bahkan di tengah perjalanan, saat mobil yang kami tumpangi juga dimuati kayu bakar, rumput, dan dua karung jengkol hasil hutan, anak-anak saya tetap menikmati semuanya dengan relatif santai.

Ah, saya pun menerawang. Tampaknya memang tidak-lah sia-sia jika kita berusaha keras untuk memberikan teladan. Saya akui, sebagai ibu saya juga termasuk orang yang kurang sabaran selama ini. Sedikit impulsif dan kadang juga pengeluh. Jadi, sebenarnya tak harus heran jika anak saya menunjukkan perilaku seperti itu ^_^. Dan saat Ramadhan tahun ini, entah mengapa ada desakan yang sangat kuat untuk mengubah karakteristik diri yang kurang baik itu. Berjuang deh, pokoknya!:)

Saya tahu, pastinya usaha saya belum-lah maksimal. Tapi dengan perubahan yang saya lihat pada anak-anak, saya jadi yakin bahwa berawal dari usaha memperbaiki diri (sekecil apapun), semua ada pengaruhnya pada perkembangan mereka. Mereka adalah cermin diri saya (Setidaknya itulah yang selalu saya coba dengungkan dalam diri saya).

Ketika kami pulang, di mana kami harus menunggu hampir 3 jam di halte, dan juga terpaksa berdiri di bis selama kurang lebih 1,5 jam karena bisnya penuh, luar biasa! Anak-anak bisa melewati semua kondisi itu dengan riang.

Walau setiba di rumah badan saya remuk redam rasanya karena sesekali harus gantian menggendong anak-anak saat mereka terlihat lelah, tapi Puji syukur kepada Allah SWT. Kepingan-kepingan perjalanan latihan yang kami lewati dengan baik adalah hadiah lebaran yang sangat berharga buat saya.

Semoga kami sebagai orang tua juga diberi Allah sikap yang istiqomah/konsisten, sehingga anak-anak juga konsisten berjalan menuju kemajuan. Berbagai kemajuan yang tak hanya berwujud kepintaran akademis semata, melainkan juga mentalitas dan kepribadian mereka. Amin ya Allah ya Robbal 'aalamiin.