SITUS SEJARAH ISLAM

13 Tahun Menjelajah Situs Sejarah Islam
Akui Situs Nusantara Paling Lengkap
Banyak pengalaman spiritual yang mereka peroleh saat menjelajahi situs-situs peninggalan sejarah Islam yang umumnya berada di tanah Arab. Termasuk kejadian di luar dugaan. Karena begitu terkesan, mereka ingin membuat sebuah buku catatan perjalanan. ------
SEBAGAI muslim yang berasal dari tanah Melayu, para kru Jejak Rasul selama menjelajahi situs-situs peninggalan Islam di kawasan Timur Tengah menemukan banyak hal baru. Sesuatu yang tidak mereka dapati dalam kultur masyarakat Malaysia atau Indonesia. Misalnya, saat berada di Iran, mereka menemukan hal menarik. Salah satunya fatwa mengenai cara meminum kopi. Sesuai fatwa itu, minum kopi yang baik tidak boleh dicampur gula dalam satu cangkir atau gelas. Yang benar, gula batu dimasukkan ke dalam mulut, baru kemudian meminum kopi pahit. Di mulut itulah kopi dan gula dicampur.
"Banyak sekali fatwa di Iran. Sampai meminum kopi pun dibuatkan fatwa," ujar Jasmi Shahir, anggota tim Jejak Rasul.Selain itu, 13 tahun terus berkelana di negeri-negeri yang belum mereka kenal membuat wawasan anggota tim semakin kaya. Mulai soal bahasa, cuaca, hingga budaya setempat. Yang paling berkesan, mereka mendapat pengalaman perjalanan spiritual yang bisa mempertebal iman dan keyakinan terhadap Islam. Menurut Jasmi, banyak kejadian di luar dugaan. Misalnya, saat timnya berada di Danau Manzala, dekat Sungai Nil di Mesir. Mereka pun berkhayal seandainya makan ikan dari sungai itu, pastilah sedap. "Eh, usai salat Jumat, kami diajak satu keluarga ke rumah mereka. Di sana kami disuguhi ikan yang kami khayalkan tadi," katanya.
Meski kebanyakan negeri yang mereka kunjungi berada di tanah Arab, tidak semua anggota tim bisa berbahasa Arab. "Saat hunting lokasi, biasanya kami berenam. Ada yang bisa bahasa Arab. Tapi, lebih banyak yang tak bisa. Sebab, bahasa Arab setiap negara berbeda. Paling susah, bahasa warga Aljazair. Mereka mencampur bahasa Arab dengan bahasa Prancis," tutur pria 46 tahun yang kini menjabat produser senior TV3 Malaysia itu. Setiap episode, tim Jejak Rasul tak sekadar mendatangi masjid, museum atau tempat sejarah lain. Mereka juga membuat ilustrasi peristiwa sejarah untuk menggambarkan perjalanan Islam. Misalnya, menggambarkan bagaimana kekejaman di zaman jahiliah.Karena itu, mereka juga merekrut penduduk setempat sebagai aktor untuk menggambarkan ilustrasi yang dibuat. Selain itu, mereka menyiapkan properti untuk mendukung peristiwa di zaman lampau. Untuk urusan terakhir itu, selain waktu dan tenaga ekstra, mereka harus mengeluarkan dana yang cukup besar. Dia mencontohkan saat tim membuat ilustrasi penyiksaan zaman jahiliah yang dilakukan Ammar Bin Yasir di Syria. Saat itu tim harus menghabiskan dana USD 10 ribu (sekitar Rp 95 juta) untuk membuat tayangan pendek berdurasi kurang dari lima menit."Kami harus merekrut 20 orang Syria untuk melakonkan adegan itu. Selain itu, kami harus menyiapkan 10 kuda, 10 unta, dan pakaian yang digunakan orang-orang di zaman jahiliah," tandasnya.
Khusus edisi Jejak Rasul di wilayah Asia Tenggara, tim mengaku terkesan saat menelusuri Indonesia. Mereka kagum karena begitu banyak situs perjalanan Islam di tanah air, termasuk Pulau Jawa."Kami rasa Indonesia punya paling banyak sejarah Islam di Asia Tenggara. Kami mengelilingi Jawa, Sumatera, Bali, hingga Sulawesi. Banyak peninggalan kerajaan Islam. Juga sejarah yang ditinggalkan oleh Walisongo. Kami mengunjungi makam-makam para wali," kata Jasmi. Tahun ini tim berkeliling ke lima negara di tanah Arab. Yakni, Yaman, Jordania, Syria, Mesir, dan Saudi Arabia. "Di Mesir kami bercerita soal sahabat nabi seperti Abu Darda atau Amru Bin Al-Ass," kata Jasmi yang sudah 23 tahun bekerja di TV3 itu.
Perjalanan 13 tahun cukup panjang dan melelahkan bagi tim Jejak Rasul. Mereka menjadi saksi mata atas sisa-sisa perjalanan Islam. Saking banyaknya pengalaman dan hal baru yang ditemukan, mereka menyimpan asa untuk mengabadikan perjalanannya itu dalam sebuah buku."Namun, sekarang kami hanya punya tujuan bagaimana menyumbang bagi syiar Islam. Berdakwah dan mendidik masyarakat tidak harus ke surau atau masjid. Bisa juga melalui layar kaca seperti yang sudah kami lakukan," kata Jasmi. (Hafid Abdurahman dari Kuala Lumpur)
(JAWA POS, RABU 3 OKTOBER 2007)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel